Aksara Swara 5 Huruf Vokal yang Berdiri Sendiri

Aksara swara adalah huruf vokal yang berdiri sendiri dalam aksara Jawa. Kelima bentuknya adalah a i u e dan o, dan kelimanya dipakai untuk kata serapan, nama, dan tempat yang berawal vokal. Panduan ini memberi tabel salin, aturan pakai, dan contoh yang sudah diperiksa dengan konverter di beranda.

Ingin langsung mencoba kata Anda

Konverter di beranda mengubah tulisan Latin menjadi aksara Jawa dan sebaliknya secara gratis. Aktifkan opsi swara di konverter itu untuk huruf awal i u e dan o, dan periksa catatan batas pada konverter di bagian akhir panduan ini.

Buka Konverter Aksara Jawa

Apa itu aksara swara

Aksara swara adalah huruf yang sudah mengandung bunyi vokal penuh, sehingga ia tidak memerlukan huruf nglegena sebagai pembawa bunyi. Karena itulah bentuk ini dipakai saat sebuah suku kata tidak memiliki konsonan di depannya, misalnya pada awal kata serapan atau nama asing.

Aksara swara yaiku huruf vokal kang ngadeg dhewe tanpa aksara nglegena. Kalimat Jawa itu merangkum inti pengertian aksara swara, yaitu huruf vokal yang berdiri sendiri dan bukan tanda yang menempel pada huruf lain.

Penulisan aksara suara juga sering dipakai untuk maksud yang sama, dan frasa aksara swara jawa dipakai sebagian pembaca untuk menyebut daftar huruf yang sama. Halaman ini memakai bentuk itu secara konsisten, karena bentuk itulah yang dipakai dalam tata tulis yang diajarkan di sekolah.

Satu hal yang sering membingungkan pemula adalah aksara ha, karena ha bisa dibaca sebagai konsonan ha atau sebagai pembawa vokal. Bagian aksara ha di bawah menjelaskan kapan ha sudah cukup dan kapan bentuk swara justru lebih jelas.

Tabel 5 bentuk

Tabel aksara jawa swara berikut memuat kelima bentuk dalam bentuk teks, sehingga setiap bentuk bisa disalin dengan mengetuk sel aksaranya. Kolom terakhir memberi sandhangan aksara jawa huruf vokal yang menyatakan vokal yang sama pada huruf nglegena, agar perbedaan antara huruf dan tanda mudah dilihat.

VokalHuruf swaraKode UnicodeNama UnicodeSandhangan yang sama bunyinyaContoh
AꦄU+A984JAVANESE LETTER AVokal a bawaan, tanpa tandaꦄꦩꦺꦫꦶꦏ Amerika, bentuk pedoman
IꦆU+A986JAVANESE LETTER IWulu ꦶ U+A9B6ꦆꦤ꧀ꦢꦺꦴꦤꦺꦱꦶꦲ Indonesia, hasil konverter
UꦈU+A988JAVANESE LETTER USuku ꦸ U+A9B8ꦈꦩꦂ Umar, hasil konverter
EꦌU+A98CJAVANESE LETTER ETaling ꦺ U+A9BAꦌꦫꦺꦴꦥ Eropa, hasil konverter
OꦎU+A98EJAVANESE LETTER OTaling tarung ꦺꦴ U+A9BA dan U+A9B4ꦎꦏ꧀ꦠꦺꦴꦧꦺꦂ Oktober, hasil konverter
Tabel aksara vokal jawa ini memuat huruf vokal aksara jawa beserta sandhangan yang sama bunyinya. Varian aksara jawa suara dan suara aksara jawa juga merujuk pada huruf yang sama.

Contoh untuk aksara swara i adalah Indonesia, karena kata itu berawal huruf i dan memakai swara I pada suku kata pertamanya. Baris lain pada tabel aksara jawa vokal ini memakai contoh yang sama polanya, yaitu satu kata yang berawal vokal untuk tiap bentuk.

Pertanyaan tentang jenis bentuk ini dijawab dengan pembagian lima bentuk modern dan bentuk lama yang hanya muncul dalam tulisan kuno. Bentuk lama dibahas singkat pada bagian bentuk lama di bawah, agar tabel di atas tetap menjadi acuan utama untuk tulisan masa kini.

Aksara swara dan sandhangan swara, apa bedanya

Sandhangan swara adalah tanda yang mengubah bunyi a bawaan pada huruf nglegena, sedangkan aksara swara adalah huruf yang sudah berupa vokal. Uji sederhananya adalah posisi vokal itu, yaitu vokal yang menempel pada konsonan memakai sandhangan, dan vokal yang berdiri sendiri memakai aksara swara.

Keadaan vokalYang dipakaiContoh
Vokal menempel pada konsonanSandhangan swaraki ꦏꦶ, ku ꦏꦸ, ko ꦏꦺꦴ
Vokal berdiri sendiri di awal kata serapan atau namaAksara swaraIndonesia ꦆꦤ꧀ꦢꦺꦴꦤꦺꦱꦶꦲ, Eropa ꦌꦫꦺꦴꦥ
Vokal di awal kata Jawa asliAksara haaku ꦲꦏꦸ, arep ꦲꦫꦺꦥ꧀

Perhatikan bahwa taling pada ké adalah tanda pada ka, bukan huruf swara E yang berdiri sendiri. Kekeliruan yang paling sering terjadi adalah mengira setiap bunyi i u e o harus ditulis dengan huruf swara, padahal bunyi itu memakai sandhangan bila menempel pada konsonan.

Bunyi pada kaTulisanKeterangan
kaꦏBunyi a bawaan, tanpa tanda
kiꦏꦶKa ditambah wulu
kuꦏꦸKa ditambah suku
kéꦏꦺKa ditambah taling
ke pepetꦏꦼKa ditambah pepet
koꦏꦺꦴKa ditambah taling tarung

Kapan dipakai

Untuk menjawab aksara swara digunakan untuk apa, perhatikan kelompok kata yang paling sering memakainya, yaitu kata serapan, nama orang, nama tempat, dan nama bulan. Kelompok kata itu memakai swara karena pelafalannya harus jelas dan tidak boleh tertukar dengan bunyi ha di awal kata.

  • Kata serapan, misalnya Eropa, Indonesia, dan Italia yang berawal vokal asing.
  • Nama orang, misalnya Umar dan Ayu dalam bentuk pedoman.
  • Nama tempat dan bulan yang berawal vokal, misalnya Oktober dan April dalam bentuk pedoman.
  • Singkatan yang dibaca huruf per huruf, misalnya UI yang konverternya memberi ꦈꦲꦶ.

Kata Jawa asli yang berawal vokal umumnya tetap memakai ha, misalnya aku dan arep, karena pembaca Jawa sudah mengenal bentuk itu tanpa perlu penegasan vokal. Pengecualian ini penting, karena memakai aksara swara pada setiap kata berawal vokal justru membuat tulisan Jawa asli terlihat asing.

Pada singkatan, konverter hanya memberi swara pada huruf pertama bila huruf itu i u e atau o, sedangkan huruf berikutnya memakai pembawa ha, seperti UI yang hasilnya ꦈꦲꦶ. Untuk bentuk pedoman singkatan, tiap huruf vokal dibaca sebagai huruf swara, tetapi bentuk itu tidak dicetak di sini sebagai hasil konverter.

Swara atau ha

Aksara ha adalah pembawa vokal yang sering dipakai dalam tulisan Jawa, karena ha bisa berdiri di awal kata dan membawa bunyi vokal apa pun. Masalahnya, ha juga dibaca sebagai konsonan ha, sehingga kata asing yang ditulis dengan ha bisa dibaca dengan tambahan bunyi ha, dan di sinilah aksara swara membantu.

Jenis kataYang dipakaiContoh
Kata Jawa asli berawal vokalHaaku ꦲꦏꦸ, arep ꦲꦫꦺꦥ꧀
Kata serapan atau nama berawal vokalAksara swaraIndonesia ꦆꦤ꧀ꦢꦺꦴꦤꦺꦱꦶꦲ, Eropa ꦌꦫꦺꦴꦥ, Oktober ꦎꦏ꧀ꦠꦺꦴꦧꦺꦂ
Vokal menempel pada konsonanSandhangan swaraki ꦏꦶ, ku ꦏꦸ, ko ꦏꦺꦴ

Pasangan adalah Ayu sebagai nama dan ayu sebagai kata sifat, karena nama itu memakai swara A dalam bentuk pedoman ꦄꦪꦸ, sedangkan kata sifat itu memakai ha dalam bentuk ꦲꦪꦸ. Pasangan ini menunjukkan bahwa pilihan antara swara dan ha bisa mengubah cara sebuah kata dikenali, bukan sekadar gaya penulisan.

Konverter di beranda memakai ha untuk semua kata berawal A, bahkan saat opsi swara aktif, karena peta swara pada konverter hanya memuat i u e dan o. Bentuk swara A pada halaman ini karena itu selalu diberi label bentuk pedoman, dan tidak pernah disajikan sebagai hasil konverter.

Aturan menulis

Penulisan aksara swara mengikuti empat aturan berikut, dan keempatnya berlaku bersama untuk setiap kata yang memakai bentuk swara. Aturan berikut ini sekaligus menjawab pertanyaan tentang tata cara penulisan yang sering diajukan pelajar.

Aturan 1, swara hanya untuk vokal yang berdiri sendiri

Pakai huruf swara hanya bila suku kata itu tidak memiliki konsonan di depannya, misalnya pada awal kata serapan atau nama. Bila vokal itu menempel pada konsonan, pakailah sandhangan yang sesuai, bukan huruf swara.

Aturan 2, swara tidak memakai sandhangan swara

Huruf swara tidak pernah diberi wulu, suku, taling, pepet, atau taling tarung, karena huruf itu sendiri sudah berupa vokal penuh. Penanda yang boleh mengikuti huruf swara hanyalah panyigeg, yaitu cecak, layar, dan wignyan, seperti pada ong ꦎꦁ dan Organisasi ꦎꦂꦒꦤꦶꦱꦱꦶ.

Aturan 3, konsonan mati sebelum swara dimatikan dengan pangkon

Bila sebuah kata berakhir dengan konsonan mati dan kata berikutnya berawal swara, konsonan mati itu diberi pangkon, bukan pasangan. Pola ini terlihat pada frasa wulan Oktober, yang konverternya memberi ꦮꦸꦭꦤ꧀ ꦎꦏ꧀ꦠꦺꦴꦧꦺꦂ dengan pangkon pada huruf n.

Aturan 4, swara bukan penanda hormat

Bentuk ini tidak menandai hormat, gelar, atau kedudukan, karena fungsi itu dimiliki aksara jawa murda dalam tata tulis Jawa. April yang ditulis dengan swara A dalam bentuk pedoman bukan April yang dihormati, melainkan April yang ditulis jelas sebagai kata serapan.

Aksara swara dan pasangannya

Aksara swara dan pasangannya adalah pertanyaan yang jawabannya singkat, yaitu pasangan swara aksara jawa tidak ada dalam tata tulis modern. Huruf swara tidak pernah menjadi pasangan, dan huruf swara juga tidak pernah menerima pasangan dari huruf lain.

Alasan sejarahnya adalah perubahan tata tulis pada masa Sriwedari, ketika penyambungan konsonan mati dengan huruf vokal dihentikan dan diganti dengan pangkon. Sejak perubahan itu, konsonan mati sebelum huruf vokal ditulis dengan pangkon, dan huruf vokal itu tetap berdiri sendiri.

Contoh pangkon sebelum aksara swara pada frasa wulan Oktober ꦮꦸꦭꦤ꧀ wulan, n dimatikan pangkon ꦎꦏ꧀ꦠꦺꦴꦧꦺꦂ Oktober, swara O di awal Pangkon mematikan n, lalu swara O berdiri sendiri
Gambar ini menunjukkan pangkon pada huruf n sebelum huruf swara O pada kata Oktober.

Pola yang sama berlaku untuk frasa lain yang berakhir konsonan mati sebelum kata berawal swara, misalnya wulan April dalam bentuk pedoman ꦮꦸꦭꦤ꧀ ꦄꦥꦿꦶꦭ꧀. Konverter untuk frasa itu memberi ꦮꦸꦭꦤ꧀ ꦲꦥꦿꦶꦭ꧀, tetapi pangkon pada huruf n tetap sama.

Bunyi e, taling, pepet, dan ê

Huruf aksara swara E adalah bunyi é taling, seperti pada Eropa, Es, dan enak, yang konverternya memberi ꦌꦫꦺꦴꦥ, ꦌꦱ꧀, dan ꦌꦤꦏ꧀. Bunyi é ini berbeda dengan pepet, yaitu bunyi e lemah yang ditulis dengan tanda pepet, bukan dengan huruf swara.

Karena itulah emas dan elang tidak memakai huruf swara, melainkan ha yang diberi pepet, yaitu ꦲꦼꦩꦱ꧀ dan ꦲꦼꦭꦁ. Dalam lima bentuk modern, tidak ada huruf swara pepet, sehingga setiap kata berawal pepet memakai ha ditambah pepet.

Untuk membedakan pepet dari taling saat mengetik, konverter menyediakan huruf ê untuk pepet dan huruf é untuk taling. Mode aksen pada konverter membuat huruf e biasa berarti pepet, sehingga bentuk tulisannya mengikuti bunyi yang dimaksud.

Bentuk lama dan huruf yang sering tertukar

Dalam tulisan kuno dan Sanskerta, jumlah huruf vokal lebih banyak, karena bentuk panjang dan bentuk vokal Sanskerta ikut dipakai. Pengajaran modern memangkas daftar itu menjadi lima bentuk aksara swara, dan bentuk lama hanya perlu dikenali saat membaca naskah kuno, bukan saat menulis kata masa kini.

HurufKode UnicodeNama UnicodeCatatan
ꦅU+A985JAVANESE LETTER I KAWIBukan huruf é dan bukan I modern
ꦇU+A987JAVANESE LETTER IIBentuk I panjang, bukan I modern
ꦍU+A98DJAVANESE LETTER AIBentuk lama, bukan bagian lima bentuk modern
ꦉU+A989JAVANESE LETTER PA CEREKVokal r Sanskerta, bukan bagian lima bentuk modern
ꦊU+A98AJAVANESE LETTER NGA LELETVokal l Sanskerta, bukan bagian lima bentuk modern

Huruf pa cerek dan nga lelet sering disebut dalam daftar lama karena dalam Sanskerta bunyi r dan l vokal dihitung sebagai vokal. Dalam pengajaran modern, keduanya dipisah dari lima bentuk swara aksara jawa dan tidak dipakai sebagai huruf swara untuk kata masa kini.

Apa itu aksara mandaswara

Frasa aksara mandaswara membingungkan karena kata mandaswara sendiri berarti suara yang indah, dan dalam pelajaran sekolah frasa sandhangan mandaswara berarti tanda sisipan seperti cakra dan pengkal. Kedua maksud itu berbeda dari huruf swara, sehingga mandaswara tidak diajarkan di sini sebagai huruf swara keenam.

Bila Anda mencari mandaswara karena soal sekolah tentang tanda sisipan, pelajarilah pasangan aksara jawa dan sandhangan pada panduan yang sesuai, bukan daftar huruf swara di atas. Bila Anda mencari mandaswara sebagai kata biasa, maknanya adalah suara yang indah, dan kata itu tidak berkaitan dengan bentuk huruf.

Contoh kata

Tabel contoh berikut memakai kata yang sudah diperiksa dengan konverter, kecuali baris yang diberi label bentuk pedoman. Baris pedoman memakai huruf aksara swara A, karena konverter memakai ha untuk semua kata berawal A.

Kata LatinTulisan aksaraKeterangan
Indonesiaꦆꦤ꧀ꦢꦺꦴꦤꦺꦱꦶꦲHasil konverter, swara I di awal
EropaꦌꦫꦺꦴꦥHasil konverter, swara E di awal
UmarꦈꦩꦂHasil konverter, swara U di awal
Oktoberꦎꦏ꧀ꦠꦺꦴꦧꦺꦂHasil konverter, vokal aksara jawa O di awal kata
wulan Oktoberꦮꦸꦭꦤ꧀ ꦎꦏ꧀ꦠꦺꦴꦧꦺꦂHasil konverter, pangkon sebelum swara O
akuꦲꦏꦸHasil konverter, ha untuk kata Jawa asli
emasꦲꦼꦩꦱ꧀Hasil konverter, ha ditambah pepet
saatꦱꦲꦠ꧀Hasil konverter, ha di tengah kata
AmerikaꦄꦩꦺꦫꦶꦏBentuk pedoman, konverter memberi ꦲꦩꦺꦫꦶꦏ
Agustusꦄꦒꦸꦱ꧀ꦠꦸꦱ꧀Bentuk pedoman, konverter memberi ꦲꦒꦸꦱ꧀ꦠꦸꦱ꧀
Aprilꦄꦥꦿꦶꦭ꧀Bentuk pedoman, konverter memberi ꦲꦥꦿꦶꦭ꧀
angꦄꦁBentuk pedoman, konverter memberi ꦲꦁ

Perhatikan bahwa baris hasil konverter dan baris bentuk pedoman tidak boleh tertukar, karena keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Baris hasil konverter menunjukkan apa yang keluar dari alat, sedangkan baris bentuk pedoman menunjukkan bentuk yang diajarkan dalam tata tulis.

Kesalahan umum

Tabel berikut memasangkan bentuk yang salah dengan bentuk yang benar, agar kesalahan aksara swara yang sering muncul mudah dikenali. Setiap baris salah diberi alasan singkat, sehingga pembaca tidak hanya menghafal bentuk benarnya.

Bentuk yang salahBentuk yang benar
Menambah ha di depan kata serapan berawal vokal, misalnya HamerikaAmerika bentuk pedoman ꦄꦩꦺꦫꦶꦏ, konverter ꦲꦩꦺꦫꦶꦏ
Memberi wulu atau suku pada huruf swaraSwara I ditulis ꦆ tanpa tambahan, dan bunyi i pada konsonan memakai wulu, misalnya ki ꦏꦶ
Memakai ꦅ sebagai huruf éHuruf é adalah ꦌ U+A98C, sedangkan ꦅ adalah I KAWI
Memakai swara untuk menandai hormatHormat ditandai aksara murda, sedangkan swara hanya menandai vokal yang berdiri sendiri
Menulis emas dengan huruf swara EEmas ditulis ꦲꦼꦩꦱ꧀ dengan ha ditambah pepet

Bila sebuah bentuk terasa ragu, ujilah kata itu dengan aturan tiga arah pada bagian perbedaan di atas, yaitu menempel, berdiri sendiri, atau kata Jawa asli. Aturan itu menyelesaikan hampir semua keraguan tanpa perlu menghafal daftar pengecualian yang panjang.

Latihan

Cobalah lima soal berikut dengan menulis jawaban Anda terlebih dahulu, lalu buka jawaban di bawah tiap soal. Kelima soal aksara swara ini memakai kata dari tabel contoh di atas, sehingga tidak ada aturan baru yang perlu dihafal.

Tuliskan Eropa dengan aksara Jawa.

Eropa ditulis ꦌꦫꦺꦴꦥ dengan swara E pada suku kata pertama. Bentuk ini adalah hasil konverter dengan opsi swara aktif.

Tuliskan Oktober dengan aksara Jawa.

Oktober ditulis ꦎꦏ꧀ꦠꦺꦴꦧꦺꦂ dengan swara O pada suku kata pertama. Bentuk ini adalah hasil konverter dengan opsi swara aktif.

Tuliskan wulan Oktober dengan aksara Jawa.

Frasa itu ditulis ꦮꦸꦭꦤ꧀ ꦎꦏ꧀ꦠꦺꦴꦧꦺꦂ dengan pangkon pada huruf n sebelum swara O. Pangkon itu mematikan huruf n, karena huruf swara tidak menerima pasangan.

Mengapa emas tidak memakai huruf swara?

Emas berawal bunyi pepet, dan lima bentuk modern tidak memiliki huruf swara pepet. Karena itu emas ditulis ꦲꦼꦩꦱ꧀ dengan ha yang diberi pepet.

Tuliskan Ayu sebagai nama dengan bentuk pedoman.

Nama Ayu dalam bentuk pedoman ditulis ꦄꦪꦸ dengan swara A pada suku kata pertama. Konverter memberi ꦲꦪꦸ untuk kata yang sama, karena konverter memakai ha untuk semua kata berawal A.

Bila kelima jawaban di atas sudah benar, Anda sudah menguasai pola dasar huruf ini dan pembedanya dengan ha. Langkah berikutnya adalah mencoba nama dan kata serapan Anda sendiri pada konverter di beranda.

Untuk latihan menulis huruf demi huruf, baca menulis aksara jawa. Untuk menulis nama orang dan tempat dengan murda yang tepat, gunakan aksara jawa nama.

Pertanyaan umum

Pertanyaan yang sering diajukan tentang huruf ini dirangkum di bawah, dan jawabannya sama persis dengan data terstruktur pada halaman ini. Bila sebuah jawaban terasa belum lengkap, bacalah kembali bagian yang membahas topik itu di atas.

Apa itu aksara swara?

Bentuk ini adalah huruf vokal mandiri dalam aksara Jawa yang dipakai untuk suku kata tanpa konsonan di depannya. Contoh paling mudah adalah huruf awal pada Indonesia, Eropa, Umar, dan Oktober.

Berapa jumlahnya?

Jumlah bentuk modern adalah lima, yaitu a i u e dan o. Bentuk lama yang lebih banyak hanya muncul dalam tulisan kuno dan tidak dipakai untuk kata masa kini.

Apakah bentuk ini memiliki pasangan?

Tidak, bentuk ini tidak memiliki pasangan dan tidak pernah menjadi pasangan. Konsonan mati sebelum huruf swara dimatikan dengan pangkon, seperti pada frasa wulan Oktober.

Apa beda aksara swara dan sandhangan swara?

Huruf swara sudah berupa vokal, sedangkan sandhangan swara adalah tanda yang mengubah bunyi a pada huruf nglegena. Vokal yang menempel pada konsonan memakai sandhangan, sedangkan vokal yang berdiri sendiri memakai aksara swara.

Mengapa emas tidak memakai aksara swara?

Emas berawal bunyi pepet, dan lima bentuk modern tidak memiliki huruf swara pepet. Karena itu emas ditulis dengan ha yang diberi pepet, yaitu ꦲꦼꦩꦱ꧀.

Kapan memakai ha dan kapan memakai bentuk swara?

Pakailah ha untuk kata Jawa asli yang berawal vokal, misalnya aku dan arep, karena bentuk itu sudah dikenal pembaca. Pakailah bentuk swara untuk kata serapan dan nama yang berawal vokal, agar pelafalannya tidak tertukar dengan bunyi ha.

Apa itu aksara mandaswara?

Aksara mandaswara bukan huruf swara keenam, karena kata mandaswara berarti suara yang indah dan frasa sandhangan mandaswara berarti tanda sisipan. Halaman ini karena itu tidak mengajarkan mandaswara sebagai bentuk swara, melainkan menjelaskannya dalam kotak di atas.

Bagaimana cara translate aksara swara dengan konverter?

Buka konverter aksara Jawa di beranda dan aktifkan opsi swara, lalu tulis kata Latin yang berawal vokal. Konverter memberi huruf swara untuk huruf awal i u e dan o, sedangkan kata berawal A memakai ha dan bentuk swara A harus ditulis manual.

Penutup

Untuk gambaran menyeluruh tentang huruf dasar dan pasangannya, baca panduan aksara jawa lengkap. Untuk mencoba langsung, buka konverter aksara Jawa dan tulis kata serapan pertama Anda dengan opsi swara aktif.

Materi aksara swara pada halaman ini merujuk pada Tata Tulis Kongres Aksara Jawa yang tersedia sebagai dokumen pedoman, dan bentuk aksara memakai blok Unicode pada bagan Unicode aksara Jawa. Aturan penulisan juga merujuk pada Wewaton Bab 3, dan temuan yang keliru bisa dilaporkan melalui halaman kontak.