Sandhangan Aksara Jawa Lengkap 12 Bentuk Fungsi dan Contoh Penulisan

Sandhangan aksara jawa adalah tanda tambahan pada aksara Jawa yang mengubah bunyi vokal, menutup suku kata, atau menyisipkan konsonan di tengah gugus. Panduan ini memuat 12 bentuk dalam tiga kelompok, tabel lengkap, aturan letak, dan latihan dengan jawaban.

Ingin langsung praktik?

Coba konverter aksara Jawa untuk mengubah tulisan Latin ke aksara Jawa dan sebaliknya, gratis tanpa daftar.

Buka Konverter Aksara Jawa

Apa itu sandhangan aksara jawa

Aksara Jawa bersifat silabis. Setiap huruf dasar sudah mengandung vokal a, misalnya ha dibaca ha dan ka dibaca ka. Supaya sebuah suku kata bisa berbunyi i, u, é, ê, atau o, atau berakhir dengan konsonan tanpa vokal, vokal a itu harus diubah atau dimatikan.

Di sinilah fungsi sandhangan aksara jawa. Sandhangan adalah tanda tambahan yang menempel pada aksara dasar dan mengubah bunyinya tanpa mengganti aksara itu sendiri.

Tanpa sandhangan aksara jawa, tulisan aksara Jawa hanya bisa berbunyi a pada setiap suku kata. Kata siji akan tertulis sija, kata buku akan tertulis buka, dan kata pasar akan tertulis pasa.

Sandhangan membuat satu aksara dasar bisa mewakili banyak bunyi hanya dengan tambahan satu tanda kecil di atas, di bawah, di depan, atau mengapit aksara.

Pada halaman ini, sandhangan dikelompokkan menjadi 12 bentuk yang umum diajarkan dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah sandhangan swara dengan lima bentuk pengubah vokal.

Kelompok kedua adalah sandhangan panyigeg dengan empat bentuk penutup suku kata. Kelompok ketiga adalah sandhangan wyanjana dengan tiga bentuk penyisip konsonan di tengah gugus.

Penyebutan 12 bentuk sandhangan aksara jawa ini adalah kerangka ajar yang umum dipakai di sekolah, bukan klaim bahwa tidak ada penggolongan lain. Macam macam sandhangan aksara jawa dibahas satu per satu pada bagian berikut.

Perbedaan penggolongan pada sumber lama. Wewaton Panulise Basa Jawa Nganggo Aksara Jawa karya Padmosoekotjo memuat 12 bentuk yang sama tetapi dengan pangkon sebagai kelompok keempat yang berdiri sendiri, sehingga susunannya menjadi lima swara, tiga wyanjana, tiga panyigeg, dan satu pangkon.

Jumlah totalnya tetap 12. Panduan ini menggabungkan pangkon ke dalam panyigeg mengikuti kerangka ajar sekolah yang lebih umum dipakai sekarang.

Ejaan dan nama lain yang perlu dikenali. Dalam bahasa Indonesia, kata ini sering ditulis sandangan aksara jawa tanpa huruf h, sedangkan ejaan Jawanya adalah sandhangan aksara jawa.

Keduanya merujuk pada hal yang sama dan halaman ini memakai ejaan sandhangan sebagai kata utama.

Nama kelompoknya juga beragam. Sandhangan swara kadang disebut sandhangan urip, sandhangan wyanjana kadang disebut sandhangan panjingan atau pambukaning wanda, sandhangan panyigeg kadang disebut sandhangan sigeg, dan wyanjana kadang disebut anuswara.

Dalam bahasa Jawa, topik ini disebut aksara jawa lan sandhangan atau aksara jawa lan sandangane. Pencarian dengan frasa aksara jawa sandhangan dan aksara jawa dan sandhangan merujuk pada topik yang sama.

Bentuk tanpa huruf h seperti aksara jawa sandangan dan aksara sandangan juga umum, begitu pula frasa aksara jawa dan sandangan, aksara jawa dan sandangannya, dan aksara jawa beserta sandangannya. Judul lengkap topik ini dalam ejaan tanpa h adalah sandangan aksara jawa lengkap.

Tabel 12 sandhangan

Tabel sandhangan aksara jawa berikut memuat 12 bentuk lengkap dengan bunyi, kelompok, letak, dan satu contoh kata untuk setiap bentuk. Bentuk sandhangan aksara jawa pada kolom kedua ditampilkan menempel pada aksara ka supaya letaknya terlihat jelas.

Klik glyph pada kolom bentuk untuk menyalin bentuknya. Semua contoh kata sandhangan aksara jawa pada tabel ini sudah diperiksa lewat konverter di halaman utama, kecuali contoh keret yang ditandai pada bagian wyanjana di bawah.

NamaBentuk pada kaBunyiKelompokLetakContoh kata
WuluꦏꦶiSwaraDi atas akhir aksarasiji
ꦱꦶꦗꦶ
SukuꦏꦸuSwaraDi bawah akhir aksarabuku
ꦧꦸꦏꦸ
TalingꦏꦺéSwaraDi depan aksaralele
ꦭꦺꦭꦺ
Taling tarungꦏꦺꦴoSwaraMengapit aksaraloro
ꦭꦺꦴꦫꦺꦴ
PepetꦏꦼêSwaraDi atas akhir aksarasega
ꦱꦼꦒ
Wignyanꦏꦃh akhirPanyigegDi akhir aksarabah
ꦧꦃ
Layarꦏꦂr akhirPanyigegDi akhir aksarabar
ꦧꦂ
Cecakꦏꦁng akhirPanyigegDi atas akhir aksarabang
ꦧꦁ
Pangkonꦏ꧀matiPanyigegDi akhir aksaraanak
ꦲꦤꦏ꧀
Cakraꦏꦿr tengahWyanjanaDi bawah aksarakrama
ꦏꦿꦩ
Keretꦏꦽrê tengahWyanjanaDi bawah aksaraprelu
ꦥꦽꦭꦸ
Pengkalꦏꦾy tengahWyanjanaDi bawah aksarakyai
ꦏꦾꦲꦶ

Untuk gambaran menyeluruh tentang aksara dasar, pasangan, dan angka, baca panduan aksara jawa lengkap. Panduan itu memuat tabel 20 huruf hanacaraka dan pasangannya, sedangkan halaman ini fokus pada sandhangan saja.

Jika pembaca mencari gambaran aksara jawa lengkap dengan pasangan dan sandhangan dalam satu tempat, panduan lengkap itu adalah titik awal yang tepat, dan halaman ini adalah pendalaman khusus sandhangannya.

Sandhangan swara

Bagian ini membahas sandhangan swara aksara jawa satu per satu. Kelompok sandhangan aksara jawa ini mengubah vokal a pada aksara dasar menjadi vokal lain. Lima bentuknya adalah wulu, suku, taling, taling tarung, dan pepet.

Perubahan vokal pada aksara ka.

ꦏ ka berubah menjadi ꦏꦶ ki dengan wulu, ꦏꦸ ku dengan suku, ꦏꦺ ké dengan taling, ꦏꦺꦴ ko dengan taling tarung, dan ꦏꦼ kê dengan pepet. Satu aksara dasar menghasilkan lima bunyi berbeda hanya lewat sandhangan swara.

Wulu

Wulu adalah sandhangan swara untuk bunyi i. Wulu ditulis di atas akhir aksara. Contohnya kata siji tertulis ꦱꦶꦗꦶ dan kata iki tertulis ꦲꦶꦏꦶ. Kesalahan yang sering terjadi adalah menulis si dengan pengkal, padahal pengkal menghasilkan bunyi y, bukan i.

Suku

Suku adalah sandhangan swara untuk bunyi u. Suku aksara jawa ditulis di bawah akhir aksara. Contohnya kata buku tertulis ꦧꦸꦏꦸ, kata kutu tertulis ꦏꦸꦠꦸ, kata tuku tertulis ꦠꦸꦏꦸ, dan kata guru tertulis ꦒꦸꦫꦸ. Aturan khusus suku pada pasangan dibahas pada bagian aturan khusus di bawah.

Taling

Taling adalah sandhangan swara untuk bunyi é dan è. Taling ditulis di depan aksara, sehingga pada tulisan Latin bunyinya terdengar sebelum aksara dibaca penuh. Contohnya kata lele tertulis ꦭꦺꦭꦺ, kata sate tertulis ꦱꦠꦺ, dan kata céré tertulis ꦕꦺꦫꦺ.

Taling tarung

Taling tarung adalah sandhangan swara untuk bunyi o. Taling tarung ditulis mengapit aksara, yaitu satu bagian di depan dan satu bagian di belakang aksara. Contohnya kata loro tertulis ꦭꦺꦴꦫꦺꦴ dan kata soto tertulis ꦱꦺꦴꦠꦺꦴ.

Pepet

Pepet adalah sandhangan swara untuk bunyi ê, yaitu vokal samar seperti pada kata emas. Pepet aksara jawa ditulis di atas akhir aksara.

Contohnya kata sega tertulis ꦱꦼꦒ, kata setya tertulis ꦱꦼꦠꦾ, dan suku pertama kata kebo tertulis ꦏꦼ pada kata penuh ꦏꦼꦧꦺꦴ. Bentuk yang dicari sebagai sandhangan aksara jawa pepet adalah pepet, yaitu tanda untuk bunyi ê.

Ada satu pembatasan penting untuk pepet. Pepet tidak dipakai untuk menulis suku kata re dan le yang bukan pasangan.

Suku kata re yang bukan pasangan ditulis dengan pa cerek, dan suku kata le yang bukan pasangan ditulis dengan nga lelet.

Contohnya kata rega yang berbunyi rêga ditulis ꦉꦒ dengan pa cerek, dan kata lenga yang berbunyi lênga ditulis ꦊꦔ dengan nga lelet. Bentuk pa cerek dan nga lelet pada contoh ini adalah bentuk pedoman yang ditampilkan sebagai teks, dan catatan tentang konverter ada pada bagian wyanjana di bawah.

Sandhangan panyigeg

Sandhangan panyigeg adalah kelompok sandhangan aksara jawa yang menutup suku kata. Kelompok ini mematikan vokal atau menambahkan bunyi konsonan di akhir suku kata. Empat bentuknya adalah wignyan, layar, cecak, dan pangkon. Nama lengkap kelompok ini adalah sandhangan panyigeg wanda.

Wignyan

Wignyan adalah sandhangan panyigeg untuk bunyi h akhir. Wignyan dipakai sebagai pengganti sigeg ha, artinya aksara ha yang menjadi penutup suku kata diganti wignyan.

Wignyan aksara jawa menempel di akhir aksara. Contohnya kata bah tertulis ꦧꦃ, kata gajah tertulis ꦒꦗꦃ, kata sawah tertulis ꦱꦮꦃ, dan kata bocah tertulis ꦧꦺꦴꦕꦃ.

Layar

Layar adalah sandhangan panyigeg untuk bunyi r akhir. Layar dipakai sebagai pengganti sigeg ra. Contohnya kata bar tertulis ꦧꦂ, kata pasar tertulis ꦥꦱꦂ, kata bubur tertulis ꦧꦸꦧꦸꦂ, dan kata kurma tertulis ꦏꦸꦂꦩ.

Cecak

Cecak adalah sandhangan panyigeg untuk bunyi ng akhir. Cecak aksara jawa dipakai sebagai pengganti sigeg nga dan ditulis di atas akhir aksara. Contohnya kata bang tertulis ꦧꦁ, kata layang tertulis ꦭꦪꦁ, kata bangkong tertulis ꦧꦁꦏꦺꦴꦁ, dan kata kanggo tertulis ꦏꦔ꧀ꦒꦺꦴ.

Pangkon

Pangkon adalah sandhangan panyigeg untuk mematikan vokal aksara. Pangkon menempel di akhir aksara dan mengubah aksara itu menjadi konsonan penutup. Contohnya kata anak tertulis ꦲꦤꦏ꧀, kata papak tertulis ꦥꦥꦏ꧀, dan kata tutup tertulis ꦠꦸꦠꦸꦥ꧀.

Dua batasan pangkon yang wajib diingat. Pertama, pangkon tidak dipakai untuk mematikan aksara ha, ra, dan nga, karena ketiganya sudah digantikan wignyan, layar, dan cecak.

Kedua, pangkon hanya dipakai di akhir kata atau akhir kalimat. Konsonan mati di tengah kata tidak memakai pangkon, melainkan memakai pasangan. Contohnya huruf n pada frasa mangan sega tidak boleh dimatikan pangkon karena masih berada di tengah frasa.

Sandhangan wyanjana

Sandhangan wyanjana adalah kelompok sandhangan aksara jawa yang menyisipkan konsonan di tengah gugus. Kelompok ini dipakai ketika dua konsonan dibaca bersama dalam satu suku kata. Tiga bentuknya adalah cakra, keret, dan pengkal.

Cakra

Bentuk yang dicari sebagai sandhangan aksara jawa cakra adalah cakra, yaitu tanda untuk gabungan dengan bunyi r di tengah gugus. Cakra ditulis di bawah aksara.

Contohnya kata krama tertulis ꦏꦿꦩ, kata putra tertulis ꦥꦸꦠꦿ, kata brana tertulis ꦧꦿꦤ, kata cakra tertulis ꦕꦏꦿ, kata krasa tertulis ꦏꦿꦱ, kata yatra tertulis ꦪꦠꦿ, kata brutu tertulis ꦧꦿꦸꦠꦸ, dan kata prau tertulis ꦥꦿꦲꦸ.

Keret

Keret adalah tanda untuk gabungan dengan bunyi rê di tengah gugus, yaitu cakra yang digabung dengan pepet. Keret ditulis di bawah aksara. Contoh pedomannya adalah kata prelu yang tertulis ꦥꦽꦭꦸ dan kata kreteg yang tertulis ꦏꦽꦠꦼꦒ꧀. Kedua bentuk ini adalah bentuk pedoman yang ditampilkan sebagai teks.

Pasangan kontrasnya adalah kata kreta yang tertulis ꦏꦿꦺꦠ. Pada kreta, bunyi re adalah re taling sehingga yang dipakai adalah cakra ditambah taling, bukan keret. Bedanya terdengar jelas.

Kreta memakai re taling, sedangkan kreteg memakai re pepet. Aturan yang sama berlaku untuk kata kreca yang tertulis ꦏꦿꦺꦕ, kata preman yang tertulis ꦥꦿꦺꦩꦤ꧀, kata prekara yang tertulis ꦥꦿꦺꦏꦫ, dan kata prewira yang tertulis ꦥꦿꦺꦮꦶꦫ.

Pengkal

Pengkal adalah tanda untuk gabungan dengan bunyi y di tengah gugus. Pengkal ditulis di bawah aksara. Contohnya kata kyai tertulis ꦏꦾꦲꦶ, kata setya tertulis ꦱꦼꦠꦾ, kata widya tertulis ꦮꦶꦢꦾ, kata ambyur tertulis ꦲꦩ꧀ꦧꦾꦸꦂ, kata sampyuh tertulis ꦱꦩ꧀ꦥꦾꦸꦃ, dan kata kopyah tertulis ꦏꦺꦴꦥꦾꦲ꧀.

Catatan tentang panjingan wa dan la. Beberapa sumber sekolah menghitung wyanjana menjadi lima dengan menambahkan panjingan wa dan panjingan la. Kedua bentuk ini memakai bentuk pasangan wa dan pasangan la, sehingga panduan ini tidak menghitungnya sebagai sandhangan tersendiri dalam tabel 12 bentuk.

Contohnya pasangan wa pada frasa anak wadon yang tertulis ꦲꦤꦏ꧀ꦮꦢꦺꦴꦤ꧀ adalah pasangan wa yang bekerja sebagai sisipan, dan tabel pasangan lengkapnya ada pada panduan pasangan.

Catatan tentang konverter. Tiga hal perlu diketahui supaya contoh pada halaman ini tidak bertentangan dengan hasil konverter. Pertama, konverter saat ini belum mendukung keret, sehingga rangkaian kre ditulis dengan cakra dan taling, yang benar untuk kata kreta tetapi bukan bentuk pedoman untuk kata kreteg.

Kedua, konverter belum menghasilkan pa cerek dan nga lelet, sehingga kata rega dan lenga ditulis dengan taling sebagai pendekatan default.

Ketiga, huruf e Latin pada mode default ditulis dengan taling kecuali kata yang sudah diatur khusus dan awalan peng, ber, ter, dan per yang memakai pepet, sedangkan mode aksen bisa dipakai untuk memaksa pepet dan pengetikan ê langsung juga menghasilkan pepet.

Letak dan cara menulis sandhangan

Letak sandhangan aksara jawa mengikuti bentuknya. Tanda yang ditulis di atas akhir aksara adalah wulu, pepet, dan cecak.

Tanda yang ditulis di bawah akhir aksara adalah suku, cakra, keret, dan pengkal. Tanda yang ditulis di depan aksara adalah taling. Tanda yang ditulis mengapit aksara adalah taling tarung. Tanda yang menempel di akhir aksara adalah wignyan, layar, dan pangkon.

letak penulisan sandhangan aksara jawa di atas di bawah di depan dan mengapit aksara Letak sandhangan ꦏꦶ Di atas wulu, pepet, cecak ꦏꦸ Di bawah suku, cakra, keret ꦏꦺ Di depan taling ꦏꦺꦴ Mengapit taling tarung

Empat letak utama sandhangan aksara jawa pada aksara ka. Wignyan, layar, dan pangkon menempel di akhir aksara, sedangkan pengkal juga ditulis di bawah aksara.

Perbedaan pepet dan taling

Pepet dan taling adalah dua sandhangan swara dalam sandhangan aksara jawa yang paling sering tertukar karena keduanya ditulis untuk huruf e Latin. Bedanya terletak pada bunyinya.

Pepet menghasilkan bunyi ê, yaitu vokal samar seperti pada kata emas, sêgêr, dan kêbo. Taling menghasilkan bunyi é dan è, yaitu vokal e yang jelas seperti pada kata sate, lele, dan kéwan.

Contoh berdampingan memperjelas bedanya. Kata sega yang berbunyi sêga memakai pepet dan tertulis ꦱꦼꦒ. Kata sate yang berbunyi saté memakai taling dan tertulis ꦱꦠꦺ.

Kata kebo yang berbunyi kêbo memakai pepet pada suku pertama dan taling tarung pada suku kedua, sehingga tertulis ꦏꦼꦧꦺꦴ. Satu kata bisa memakai pepet dan taling sekaligus pada suku kata yang berbeda.

Untuk memaksa pepet di konverter, pakai mode aksen atau ketik ê langsung. Cara ini berguna untuk kata yang pada mode default tertulis dengan taling padahal bunyinya adalah ê.

Perbedaan sandhangan pasangan dan pangkon

Sandhangan, pasangan, dan pangkon sering tertukar karena ketiganya berhubungan dengan bunyi yang dimatikan. Tabel sandhangan aksara jawa berikut membedakan ketiganya lewat fungsi, posisi, dan contoh.

SandhanganPasanganPangkon
FungsiMengubah bunyi vokal, menutup suku kata, atau menyisipkan konsonanMematikan vokal suku kata sebelumnya sekaligus mewakili konsonan berikutnyaMematikan vokal tanpa konsonan berikutnya
PosisiMenempel pada aksara yang diubahDi tengah kataDi akhir kata
Contohbuku ꦧꦸꦏꦸ memakai sukuanak sapi ꦲꦤꦏ꧀ꦱꦥꦶ memakai pasangan saanak ꦲꦤꦏ꧀ memakai pangkon

Hubungan ketiganya terlihat pada satu kata yang sama. Kata anak memakai pangkon karena konsonan terakhirnya tidak diikuti suku kata lain.

Frasa anak sapi memakai pasangan sa karena konsonan ka diikuti suku kata sa. Kata buku memakai suku karena yang diubah hanya vokal pada satu suku kata.

Panduan pasangan yang membahas tabel 20 pasangan secara lengkap adalah pendamping halaman ini, dan panduan lengkap adalah gambaran menyeluruhnya. Pencarian sandhangan aksara jawa pasangan biasanya bermuara pada pertanyaan yang sama, yaitu kapan memakai yang satu dan kapan memakai yang lain.

Contoh kata dan kalimat

Berikut adalah sandangan aksara jawa beserta contohnya dalam kata yang dipakai setiap hari. Setiap kata memakai satu atau lebih sandhangan, dan dua kata terakhir memadukan beberapa sandhangan sekaligus. Setiap contoh sandhangan aksara jawa di bawah sudah diperiksa lewat konverter di halaman utama.

KataAksaraSandhangan yang dipakai
sijiꦱꦶꦗꦶWulu
bukuꦧꦸꦏꦸSuku
leleꦭꦺꦭꦺTaling
loroꦭꦺꦴꦫꦺꦴTaling tarung
segaꦱꦼꦒPepet
pasarꦥꦱꦂLayar
gajahꦒꦗꦃWignyan
layangꦭꦪꦁCecak
anakꦲꦤꦏ꧀Pangkon
kramaꦏꦿꦩCakra
kretaꦏꦿꦺꦠCakra dan taling
kyaiꦏꦾꦲꦶPengkal
kopyahꦏꦺꦴꦥꦾꦲ꧀Taling tarung, pengkal, wignyan
truweluꦠꦿꦸꦮꦺꦭꦸCakra, suku, taling, suku

Kalimat pendek untuk dibaca.

Frasa mangan sega tertulis ꦩꦔꦤ꧀ ꦱꦼꦒ. Kata mangan memakai pangkon karena kata itu berakhir di situ, dan kata sega memakai pepet. Pasangan tidak melintasi batas kata, sehingga pangkon pada mangan tetap dipertahankan meskipun kata berikutnya diawali sa.

Kesalahan umum

Kesalahan sandhangan aksara jawa berikut sering muncul pada tulisan pemula dan pada beberapa artikel portal. Mengenali bentuk salah sandhangan aksara jawa lebih berguna daripada menghafal daftar larangan.

Menulis si dengan pengkal

Bunyi si ditulis dengan wulu sehingga sa menjadi ꦱꦶ. Bentuk ꦱꦾ bukan si, melainkan sa dengan pengkal yang berbunyi sya. Tertukar wulu dan pengkal mengubah bunyi kata sama sekali.

Menulis ng akhir dengan pangkon

Bunyi ng akhir ditulis dengan cecak sehingga kata bang menjadi ꦧꦁ. Pangkon hanya mematikan vokal tanpa menambahkan bunyi, sehingga tidak bisa menggantikan cecak untuk bunyi ng.

Menulis o dengan tarung saja

Bunyi o ditulis dengan taling tarung lengkap, yaitu taling di depan dan tarung di belakang aksara, sehingga kata loro menjadi ꦭꦺꦴꦫꦺꦴ. Tarung saja tanpa taling tidak menghasilkan bunyi o, dan taling tarung bukan bunyi ai seperti yang ditulis beberapa artikel.

Memakai pasangan untuk konsonan akhir kata

Konsonan di akhir kata tidak memakai pasangan. Kata bapak memakai pangkon dan tertulis ꦧꦥꦏ꧀, kata becik memakai pangkon dan tertulis ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀, dan kata bocah memakai wignyan dan tertulis ꦧꦺꦴꦕꦃ. Ketiganya dimatikan sandhangan panyigeg, bukan pasangan.

Menulis re dan le dengan pepet atau taling

Suku kata re dan le yang bukan pasangan tidak memakai pepet atau taling. Kata rega yang berbunyi rêga harus ditulis ꦉꦒ dengan pa cerek. Kata lenga yang berbunyi lênga harus ditulis ꦊꦔ dengan nga lelet. Bentuk dengan ra dan pepet atau ra dan taling adalah bentuk yang salah menurut pedoman.

Menulis kreteg dengan cakra dan taling

Kata kreteg yang berbunyi krêtêg memakai keret dan tertulis ꦏꦽꦠꦼꦒ꧀. Bentuk dengan cakra dan taling adalah bentuk untuk kata kreta yang berbunyi kréta, bukan untuk kreteg. Bentuk cakra dan taling untuk kreteg sering muncul karena konverter menulisnya demikian, tetapi bentuk pedomannya memakai keret.

Aturan khusus

Tiga aturan sandhangan aksara jawa berikut jarang dibahas artikel portal, tetapi menentukan benar salahnya tulisan pada kasus tertentu.

Suku pada pasangan ka ta dan la

Sandhangan suku pada pasangan ka, ta, dan la ditulis sesudah pasangan dikembalikan dulu ke bentuk aksara pokoknya. Alasannya adalah bentuk pasangan ketiga aksara itu terpotong pada bagian belakang, sehingga suku tidak bisa langsung menempel.

Beberapa sumber, termasuk Mikirbae dan cermin Wikipedia, menyebut ka, na, dan la untuk aturan ini. Panduan ini mengikuti Wewaton dan modul ajar yang menyebut ka, ta, dan la, dengan catatan perbedaan sumber ini.

Aksara murda dan aksara swara

Aksara murda tidak dapat dipakai sebagai konsonan penutup suku kata dan tidak bisa dipangkon. Jika sebuah aksara murda menemui posisi sigeg, yang ditulis adalah bentuk aksara pokoknya.

Aksara swara tidak memiliki pasangan. Jika sebuah aksara swara menemui konsonan penutup pada suku kata sebelumnya, konsonan itu dimatikan dengan pangkon. Aksara swara sendiri masih bisa menerima wignyan, layar, dan cecak.

Angka dan tanda baca

Pada pangkat aksara jawa mengapit angka. Angka 5 ditulis ꧇꧕꧇ dengan pangkat di kedua sisinya. Menurut Wewaton, pangkon juga bisa menjadi pengganti pada lingsa, dan jika pada lingsa ditambahkan sesudah pangkon, fungsinya berubah menjadi pada lungsi.

Latihan menulis

Latihan sandhangan aksara jawa paling efektif adalah menulis kata sendiri lalu memeriksa bunyinya. Kerjakan enam soal berikut, kemudian cocokkan jawaban dengan kunci yang tersedia.

  1. Tulis kata siji.

    Kunci. Kata siji tertulis ꦱꦶꦗꦶ dengan wulu pada sa dan wulu pada ja.

  2. Tulis kata buku.

    Kunci. Kata buku tertulis ꦧꦸꦏꦸ dengan suku pada ba dan suku pada ka.

  3. Tulis kata pasar.

    Kunci. Kata pasar tertulis ꦥꦱꦂ dengan layar pada sa untuk bunyi r akhir.

  4. Tulis kata krama.

    Kunci. Kata krama tertulis ꦏꦿꦩ dengan cakra pada ka untuk gabungan kra.

  5. Tulis kata kyai.

    Kunci. Kata kyai tertulis ꦏꦾꦲꦶ dengan pengkal pada ka untuk gabungan kya dan wulu pada ha.

  6. Bedakan kreta dan kreteg.

    Kunci. Kata kreta tertulis ꦏꦿꦺꦠ dengan cakra dan taling karena bunyinya adalah re taling. Kata kreteg tertulis ꦏꦽꦠꦼꦒ꧀ dengan keret karena bunyinya adalah re pepet.

Latihan sekarang.

Tulis kata pada soal di atas pada konverter dan cocokkan sandhangan yang muncul dengan tabel 12 sandhangan pada halaman ini.

Buka Konverter Aksara Jawa

FAQ

Apa itu sandhangan aksara jawa?

Sandhangan aksara jawa adalah tanda tambahan pada aksara Jawa yang mengubah bunyi vokal, menutup suku kata, atau menyisipkan konsonan di tengah gugus. Tanpa sandhangan, setiap suku kata hanya berbunyi a.

Berapa jenis sandhangan aksara jawa?

Jumlah sandhangan aksara jawa yang umum diajarkan ada 12, terbagi menjadi lima sandhangan swara, empat sandhangan panyigeg, dan tiga sandhangan wyanjana. Wewaton memuat 12 bentuk yang sama dengan pangkon sebagai kelompok keempat yang berdiri sendiri.

Apa bedanya sandangan dan sandhangan?

Tidak ada bedanya. Sandangan aksara jawa adalah ejaan bahasa Indonesia tanpa huruf h, sedangkan sandhangan aksara jawa adalah ejaan Jawanya. Keduanya merujuk pada tanda yang sama dan halaman ini memakai ejaan sandhangan sebagai kata utama.

Apa perbedaan pepet dan taling?

Pada sandhangan aksara jawa, pepet menghasilkan bunyi ê seperti pada kata sega yang tertulis ꦱꦼꦒ, sedangkan taling menghasilkan bunyi é dan è seperti pada kata sate yang tertulis ꦱꦠꦺ. Kata kebo memakai keduanya sekaligus dan tertulis ꦏꦼꦧꦺꦴ.

Kapan memakai pangkon dan kapan memakai pasangan?

Pangkon dan pasangan adalah dua penanda dalam sandhangan aksara jawa. Pangkon dipakai di akhir kata, misalnya kata anak yang tertulis ꦲꦤꦏ꧀. Pasangan dipakai di tengah kata, misalnya frasa anak sapi yang tertulis ꦲꦤꦏ꧀ꦱꦥꦶ dengan pasangan sa. Pangkon tidak pernah dipakai di tengah kata dan pasangan tidak pernah dipakai di akhir kata.

Apa itu keret?

Keret adalah tanda ꦽ untuk gabungan dengan bunyi rê di tengah gugus dalam sandhangan aksara jawa, yaitu cakra yang digabung dengan pepet. Contoh pedomannya adalah kata prelu yang tertulis ꦥꦽꦭꦸ dan kata kreteg yang tertulis ꦏꦽꦠꦼꦒ꧀. Kata kreta memakai cakra dan taling karena bunyinya adalah re taling, bukan re pepet.

Bagaimana menulis kata rega dan lenga?

Aturan re dan le dalam sandhangan aksara jawa memakai pa cerek dan nga lelet. Kata rega yang berbunyi rêga ditulis ꦉꦒ dengan pa cerek, bukan dengan ra dan pepet atau ra dan taling. Kata lenga yang berbunyi lênga ditulis ꦊꦔ dengan nga lelet, bukan dengan la dan pepet atau la dan taling. Aturan ini berlaku untuk suku kata re dan le yang bukan pasangan.

Bagaimana cara berlatih sandhangan aksara jawa?

Cara berlatih sandhangan aksara jawa adalah memecah kata menjadi suku kata, menentukan bunyi setiap suku kata, memilih sandhangan yang sesuai dari tabel 12 bentuk, lalu menulis dan membaca ulang hasilnya. Periksa tulisan dengan konverter aksara Jawa di halaman utama dan bandingkan dengan tabel pada halaman ini.

Penutup

Sandhangan aksara jawa adalah kunci yang membuat tulisan aksara Jawa terbaca persis seperti ucapan. Kuasai 12 bentuk sandhangan aksara jawa lewat tabel di atas, hafalkan letaknya, lalu latih lewat kata yang dipakai setiap hari.

Setelah itu, kesalahan yang tersisa biasanya hanya soal pepet yang tertukar taling, pangkon yang tertukar pasangan, atau keret yang tertukar cakra dan taling, dan ketiganya mudah diperiksa dengan membaca ulang.

Untuk gambaran menyeluruh tentang aksara dasar dan angka, baca panduan aksara jawa lengkap. Panduan pasangan yang membahas tabel 20 pasangan secara lengkap adalah pendamping halaman ini.

Untuk mencoba langsung, buka konverter aksara Jawa dan tulis kata pertama sendiri.

Materi pada halaman ini disusun merujuk pada Wewaton Panulise Basa Jawa karya Padmosoekotjo dan Tata Tulis Aksara Jawa hasil Kongres Aksara Jawa I yang tersedia sebagai dokumen pedoman, dan bentuk aksara memakai blok Unicode yang terdokumentasi pada bagan Unicode aksara Jawa.